Friday, 8 May 2020

STRUKTUR MODAL


Konsep Struktur Modal
Istilah 'struktur' berarti pengaturan berbagai bagian. Jadi struktur modal berarti pengaturan modal dari sumber yang berbeda sehingga dana jangka panjang yang dibutuhkan untuk bisnis dinaikkan. Dengan demikian, struktur modal mengacu pada proporsi atau kombinasi dari modal saham ekuitas, modal saham preferensi, surat utang, pinjaman jangka panjang, laba ditahan dan sumber dana jangka panjang lainnya dalam jumlah total modal yang harus dikumpulkan oleh perusahaan untuk menjalankan bisnis.
 
"Struktur modal suatu perusahaan mengacu pada peningkatan kapitalisasi dan mencakup semua sumber daya modal jangka panjang yaitu, pinjaman, cadangan, saham, dan obligasi." - Gerstenberg.
 
"Struktur modal adalah kombinasi dari sekuritas hutang dan ekuitas yang terdiri atas pembiayaan aset perusahaan." - John J. Hampton.
“Struktur modal mengacu pada campuran sumber dana jangka panjang, seperti, surat utang, utang jangka panjang, modal saham preferensi dan modal saham ekuitas termasuk cadangan dan surplus.” - IM Pandey.

CONTOH SKRIPSI BIDANG MANAJEMEN

ANALISIS PENGARUH RETURN ON ASSET, DEBT TO EQUITY RATIO, GROWTH, FIRM SIZE, DAN CASH RATIO TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO

EVALUASI LAPORAN KEUANGAN PT. ANEKA TAMBANG TAHUN 2008 DAN 2009

PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN PROMOSI TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KERUPUK RAMBAK “DWIJOYO” DI DESA PENANGGULAN KEC. PEGANDON KAB. KENDAL

FAKTOR-FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI DAN KETIDAKPASTIAN LINGKUNGAN TERHADAP HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI ANGGARAN DENGAN SENJANGAN ANGGARAN (STUDI KASUS PADA PERGURUAN TINGGI SWASTA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA) 

PENGARUH ARUS KAS TERHADAP RASIO LIKUIDITAS PERUSAHAAN PADA PT MAJU JAYA CARGO

ANALISIS PENGARUH RETURN ON ASSET, DEBT TO EQUITY RATIO, GROWTH, FIRM SIZE, DAN CASH RATIO TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listed Di BEI Periode 2005-2008)

Agency Theory (Teori Keagenan)

Konsep  Agency Theory yaitu menjelaskan hubungan antara prinsipal dan agen. Prinsipal mempekerjakan agen untuk melakukan tugas untuk kepentingan prinsipal, termasuk pendelegasian otorisasi pengambilan keputusan dari principal kepada agen. Pada perusahaan yang modalnya terdiri atas saham, pemegang saham bertindak sebagai prinsipal, dan CEO (Chief Executive Officer) sebagai agen mereka. Pemegang saham mempekerjakan CEO untuk bertindak sesuai dengan kepentingan principal.

Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak antar anggota-anggota dalam perusahaan, dimana prinsipal dan agen sebagai pelaku utama. Prinsipal merupakan pihak yang memberikan mandat kepada agen untuk bertindak atas nama prinsipal, sedangkan agen merupakan pihak yang diberi amanat oleh prinsipal untuk menjalankan perusahaan. Dengan demikian, kontrak kerja yang baik antara prinsipal dan agen adalah kontrak kerja yang menjelaskan apa saja yang harus dilakukan manajer dalam menjalankan pengelolaan dana yang diinvestasikan dan mekanisme bagi hasil berupa keuntungan, return dan risiko-risiko yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.
Teori agensi mengasumsikan bahwa masing-masing individu termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga dapat menimbulkan konflik antara prinsipal dan agen. Pihak prinsipal  termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Sedangkan agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologinya. Menurut Eisenhardt (1989) teori  keagenan dilandasi oleh tiga buah asumsi, yaitu:

Thursday, 9 April 2015

Program Bapak Angkat Dan Prestasi Usaha Kecil Sumatera Barat


Herri
John Edward

Abstract

Small and medium enterprise (SMEs) have played an important role in economic development either ini developed countries or in developing countries like Indonesia. SMEs will mainly contribute to the employment opportunities, technology transfer, and poverty reduction. Considering of their signigicant contribution  to the economic development, Indonesia government do have many policies and program to encourage SMEs develop and growth further. Program Bapak Angkat in one of measure adapted by Indonesia government to enhance SMEs performance by asking State owned company to provide assistance to SMEs in many ways; such as marketing opportunities, credit facility, training and promotion. The objective of this research is to find out the effectiveness of this program in improving the performance of SMEs in West Sumatera. There are 251 SMEs as the respondents of  this study coming from five municipalities in West Sumatera, they consist of 226 respondents that are not including in the program and 25 of them include in the program Bapak Angkat. Using descriptive analysis, this study found out that Bapak Angkat program does have contributed to the improvement of SMEs financial performance. Limitations and suggestions for future research are also mentioned this research

 

Keywords: Small and medium enterprise (SMEs), performance,  assistance government program, developing countries



PENGARUH CURRENT RATIO, EARNING PER SHARE DAN RETURN ON EQUITY TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN AUTOMOTIVE AND COMPONENTS DI BURSA EFEK INDONESIA



PENDAHULUAN


Latar Belakang

Pasar modal memiliki peran penting dalam kegiatan ekonomi terutama di negara yang menganut sistem ekonomi pasar. Pasar modal menjadi salah satu sumber kemajuan ekonomi karena dapat menjadi sumber dan alternatif bagi perusahaan. Pasar modal merupakan sarana pembentukan modal dan akumulasi dana yang diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengarahan dana guna menunjang pembiayaan pembangunan nasional (Kamaruddin 2004 : 17).  Perkembangan yang pesat pada pasar modal saat ini sangat menarik  perhatian investor atau para pemilik modal untuk berinvestasi di pasar modal.
        Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini diberi judul “”.

Laporan Keuangan Definisi dan Pemahaman



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Laporan Keuangan
Bagi para analis, laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Pada tahap pertama seorang analis tidak akan mampu melakukan pengamatan langsung ke suatu perusahaan. Dan seandainya dilakukan ia pun tidak akan dapat mengetahui banyak tentang situasi perusahaan. Oleh karena itu yang paling penting adalah media laporan keuangan. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan sarana informasi bagi analis dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode dan arus dana perusahaan dalam periode tertentu.

ANALISIS RASIO KEUANGAN



BAB I
PENDAHULUAN

            Seiring dengan krisis multi dimensi yang melanda Indonesia, banyak masalah dan penderitaan yang dialami bangsa ini. Yang termasuk menonjol adalah dalam aspek ekonomi, yakni terpuruknya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang bangkrut, perbankan yang dilikuidasi dan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang menganggur. Penyebab dari krisis ini, bukanlah karena fundamental ekonomi yang lemah saja, tetapi karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang cukup besar. Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat adanya spekulasi dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah yang besar dan secara bersamaan sehingga permintaan akan dolar meningkat, ditambah lagi dengan banyak terjadinya bencana alam yang mengakibatkan nilai tukar rupiah yang semakin lemah.

ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEUANGAN DAN BISNIS PADA PERUSAHAAN PROPERTY AND REAL ESTATE


 
Enggar Nursasi
STIE Malangkuçeçwara Malang


Abstract : This study aimed to determine whether there was a difference for firms with managerial ownership and firms with no managerial ownership in financial decision making and business decision-making. Financial decisions proxied by debt policy and business decisions proxied by the value of the company. Debt policy is indicated by the ratio of total debt to total assets (Debt to Total Assets Ratio / DTA), while commonly indicated enterprise value of Price To Book Value. The samples in this study were 112 Real Estate And Property companies are Go Gublic in BEI for the years 2008 through 2010. Hypothesis testing using t-test with a significant level of 0.015 to 0.000 for the debt policy and firm value. This suggests that there are differences in the value of corporate debt policy and for firms with managerial ownership and firm without managerial ownership.
Keywords: Managerial Ownership, Debt Policy and Corporate Value

Dalam Agency Theory digambarkan hubungan antara manager dan pemegang saham. Manager sebagai agent dan pemegang saham sebagai principal. Manager dituntut untuk memaksimalkan sumber daya atau nilai perusahaan untuk meningkatkan kekayaan pemegang saham (stockholders). Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai perusahaan yang tinggi akan menjadi keinginan para pemilik modal (pemegang saham).  Seorang manager dituntut untuk mengambil kebijakan yang dapat meningkatkan kemajuan usaha suatu perusahaan. Konflik potensial antara pemegang saham dengan manager akan terjadi jika manager mengambil kebijakan yang menguntungkan dirinya sendiri seperti pengambilan keputusan yang mengandung resiko seperti kebijakan hutang tanpa memperhitungkan kepentingan para pemegang saham.

PERAN PRAKTEK CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI MODERATING VARIABLE DARI PENGARUH EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN


 
Vinola Herawaty
Dosen Universitas Trisakti
dan mahasiswa Pasca Sarjana Program Ilmu Akuntansi Universitas Indonesia

The objective of the empirical studi is to examine the role of Corporat Governance Practises as a variabel that moderates the effect of Earnings Management to the value of the firm and to answer the effectinessness of Corporate Governance Practises in controlling the company’s management’s ability with Earnings Management that affect the Firm Value. Four proxies used for Corporate Governance Practices are Manajerial Ownership, Institusional Ownership, Outside Independent Director, Audit Quality. Company size is use as a control variable. The value of the firm is measured by using proxy Tobin’s Q Model. The analysis method used is Ordinary Least Square, t-test and F-test. The sample of this empirical study is the company that listed in Jakarta Stock Exchange in the period of 2004-2006. The result gives the evidence that Corporate Governace Practises that have a signifikan impact to the value the firm are Outside Independent Director and Institusional Ownership, in the model regression with moderating variable. It also indicates that Outside Independent Director, Audit Quality and Institusional Ownership are moderating variables of the relationship between Earnings Managementt and the value of the firm, but not the Manajerial Ownership. Thus, Earnings Management can be minimized with the monitoring mechanism i.e. (1) Outside Independent Director that can monitor the management of the company in aligning the interest of principal and agent, (2) Institusional Ownership shareholders - the sophitisticed investor that also monitor the management to decrease the motivation of management to manipulate Earnings and (3) Audit Quality with the role of auditors to give the credibility of the reported financial statement by management. The result also shows that Manajerial Ownership does not represent the moderating variable of the realtionship between Earnings Management and Firm Value, it proves that the role of manajerial ownership is not significant to minimize the management’s ability to manipulate Earnings that affects the Firm Value


Keywords:
Corporate Governance, Earnings Management, Manajerial Ownership, Outside Independent Director,  Institusional Ownership, dan Audit Quality..


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu cara yang dilakukan manajemen dala proses penyusunan laporan keuangan yang dapat mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan adalah Earnings Management yang diharapkan dapat meningkatkan Nilai Perusahaan pada saat tertentu. Tujuan Earnings Management adalah meningkatkan kesejahteraan pihak tertentu walaupun dalam jangka panjang tidak terdapat perbedaan laba kumulatif perusahaan dengan laba yang dapat diidentifikasikan sebagai suatu keuntungan (Fischer dan Rosenzweirg, 1995), Scot 1997: 294. Earnings Management yang dilakukan manajemen perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan (Tobin’s Q) lalu kemudian akan turun (Morck, Scheifer & Vishny (1988). l

PENGARUH INFORMASI SELAMA PROSES PENAWARAN TERHADAP INITIAL RETURN PERUSAHAAN YANG LISTING DI BURSA EFEK JAKARTA DARI TAHUN 1990 – 2000



DWI MARTANI
Universitas Indonesia Jakarta
Abstract
The initial return phenomenon in Initial Public Offering (IPOS) has been analyzed by several empirical studies referring to the major international stock market. This paper present an empirical study conduced on 250 IPOs on ,Bursa Efek Jakarta between 1990 - 2000.
Information during offering can explain variability of initial return. Consistence with theoretical frameworks and previous study, such as positive correlation initial return and: time between registration effective and listing date; market return index during offering; maturity of market; ratio of offering to book value. The study find a negative correlation between risk free return (SBI), and market price earning ratio.The study develop the alternative model that use other variables such as proportion of share own by the old share holder; volume, net profit to total asset and sales to total asset. But the variable not significant. The study provide evidence that information during offering more relevance information to explain the initial return than other.
Key word: Initial Public Offering, Initial Return 1.    LATAR BELAKANG
IPO merupakan suatu bidang penelitian yang tidak habis digali oieh para peneliti. Anomali yang banyak menjadi obyek penelitian adalah adanya penurunan harga saham setelah saham IPO diperdagangkan dj pasar modal. Fenomena ini sering disebut "underpricing" atau positif initial return. Disebut underpricing karena peneliti menganggap bahwa harga penawaran yang ditetapkan terlalu rendah, sebab harga yang terjadi di pasar sekunder mencerminkan harga dalam kondisi keseimbangan (full information). Peneliti yang menyebut terjadi positif initial return, beranggapan bahwa harga yang ditetapkan telah benar (full information price),kenaikan harga di pasor sekunder menunjukkan adanya positive return dan harga keseimbangan. (Ritter 1984, Friedlan 1993, Ibottson et al. 1994, Loughran dan Ritter 1995, Sembel 1996, Page dan Reyneke 1997, Umi 1999, Basana 1999, A"ggarwal et al. 2000, Ritter 2000, Arosio et al. 2000, Jenice et al. 2000, Lorenzo dan Febrizio 2001, Chen et al. 2000, Ekkerhart et al. 2001).
Anomali yang kedua adalah adanya penurunan harga saham atau kinerja perusahaan yang telah menerbitkan harga saham dalam jangka panjang, hal int sering disebut sebagai longterm under performance. Penurunan ini ditandai denganl menurunnya harga saham perusahaan dari waktu ke waktu dibandingkan dengan kinerja pasar secara keseluruhan maupun kinerja industri. (Ibottson et al. 1994, Ritter 1991, Sembel 1996, Page dan Reyneke 1997, Teoh et al. 1998, Alvarez dan Gonzales 1999, Basana 1999, Aggarwal et al. 2000, Ritier 2000, Jenice et al. 2000, Bessler dan Theis 2002). Penurunan juga ditemukan pada kinerja secara operasional misalnya terkait dengan laba per saham, return on asset, pangsa pasardan lain-Iainnya (Jain Barat & Omesh Kini 1993, McLaughlin et al. 1998, Chen et al. 2000).

Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2009-2011



 BAB I 
PENDAHULUAN
  
1.1 Latar Belakang
Berdirinya sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal yang mengemukakan tujuan dari berdirinya sebuah perusahaan. Tujuan yang pertama adalah untuk mencapai keuntungan maksimal. Tujuan yang kedua adalah ingin memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham, sedangkan tujuan perusahaan yang ketiga adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya. Ketiga tujuan perusahaan tersebut sebenarnya secara substansial tidak banyak berbeda. Hanya saja penekanan yang ingin dicapai oleh masing-masing perusahaan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya (Harjito dan Martono, 2005: 2).
Hasnawati (2005) mengungkapkan semakin tinggi nilai perusahaan maka semakin sejahtera para shareholdernya. Semakin tinggi nilai perusahaan maka semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan. Bagi perusahaan yang go public, nilai perusahaan dapat direfleksikan melalui harga pasar saham. Harga pasar saham adalah harga yang bersedia dibayarkan oleh calon investor apabila ia ingin memiliki saham suatu perusahaan, sehingga harga saham merupakan harga yang dapat dijadikan sebagai proksi nilai perusahaan

PENGARUH KEBIJAKAN PEMBAGIAN DIVIDEN, KUALITAS AKRUAL DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA RELEVANSI NILAI DIVIDEN, NILAI BUKU, DAN LABA


 
ALEXANDER ANGGONO
Konsultan

ZAKI BARIDWAN
Universitas Gajah Mada Yogyakarta


Abstract
                   This study provides an empirical examination of value relevance of earnings, book value and dividend to explain firm’s market value and examine several conditions, which influence the value relevance.  This study uses 59 firms from manufacture industry, as sample, and covered period from 1995-2000.
                   Result of examination shows existence of difference value relevance of earnings, book value and dividend. Examination of firms that have negative earnings and positive book value shows that book value dominate relative to earnings and dividend.  While examination of dominance of value relevance of dividend in firms, which have negative earnings, result shows that earnings are most dominant in value relevance.  Next examination tries to show whether accruals quality and firms size influence value relevance of earnings, book value and dividend, and the result indicates convincing evidence that accrual quality and firms size influence value relevance of earnings, book value and dividend.

Keywords:            value relevance, earnings, dividend, book value, accruals quality, firms size

1.PENDAHULUAN

                   Berbagai model penilaian ekuitas dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar, yaitu: pertama, pengujian model EBO (Edward-Bell-Ohlson) dengan mengekspresikan nilai perusahaan sebagai fungsi laba dan nilai buku, seperti penelitian Rees (1997) yang menemukan bahwa investor di Inggris lebih menekankan pada laba daripada nilai buku bila dibandingkan dengan investor Kanada, hal ini mungkin disebabkan kualitas laba yang lebih tinggi di Inggris.  Kelompok kedua, memperluas model EBO dengan memasukkan variabel dividen dan pengeluaran modal dalam penilaian ekuitas.  Kelompok ketiga adalah model yang didasarkan pada konsep nilai ekonomis (serupa dengan model residual atau laba abnormal).  Keempat, merupakan model pengujian yang menggunakan berbagai pendekatan penilaian, seperti Damodaran (1996) yang menggunakan empat variabel dasar, yaitu dividend payout, pertumbuhan laba, beta dan profit margin.   Kelima, mengevaluasi logaritma yang digunakan pengadilan pada beberapa kasus hukum dalam menentukan nilai perusahaan (Abukari et. al., 2000).

Pengaruh Return On Assets, Return on Equity, Debt to equity, Book Value Terhadap Return saham



ABSTRAKS1

Saham perusahaan yang go publik sebagai komoditi investasi tergolong berisiko tinggi, karena sifat komoditinya sangat peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik perubahan di luar negeri maupun di dalam negeri, perubahan di bidang politik, ekonomi, moneter, Undang-undang, atau peraturan, maupun perubahan yang terjadi di dalam industri dan perubahan itu sendiri. Perubahan-perubahan tersebut dapat berdampak positif dan dapat pula berdampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor fundamental seperti return on assets, return on equity, dividend payout ratio, debt to equity ratio, dan book value equity pershare terhadap harga saham perusahaan pada kelompok industri barang komsumsi di pasar modal Indonesia.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufactur sektor Food & Baverage yang terdaftar di BEI sebanyak 19 perusahaan. Pengambilan sampel menggunkan purposive sampling dan diperoleh 15 perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai sampel. Metode analisis data menggunakan analisis regresi berganda, uji t, uji F dan koefisien determinasi.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan mengenai pengaruh Return On Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Debt to equity (DER) dan Book Value (BV) terhadap return saham, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan bahwa untuk variabel ROA mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham, hal ini ditunjukkan nilai probabilitas di bawah 0,05 yaitu sebesar 0,044, berarti P < 0,05. Variabel ROE tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham, hal ini ditunjukkan oleh nilai probabilitas di atas 0,05 yaitu sebesar 0,553, berarti P > 0,05. Variabel DER mempunyai pengaruh signifikan terhadap return sahm, hal ini ditunjukkan oleh nilai probabilitas di bawah 0,05 yaitu sebesar 0,027, berarti P < 0,05. Variabel BV tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham, hal ini ditunjukkan oleh nilai probabilitas di atas 0,05 yaitu sebesar 0,469, berarti P > 0,05. Hasil uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama Return On Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Debt to equity (DER) dan Book Value (BV) terhadap return saham dan ROA mempunyai pengaruh dominan terhadap return saham.


Kata kunci: Return On Assets, Return on Equity, Debt to equity, Book Value, return saham

Pengaruh Price to Book value (PBV) Terhadap Return Saham



ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRICE TO BOOK VALUE DAN IMPLIKASINYA PADA RETURN SAHAM
 (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI)


Wardjono
Wardjono@unisbank.ac.id


Abstarct

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor fundamental perusahaan terhadap price to book value  dalam peneilaian saham di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006 – 2008. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling yaitu  pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu. Dari kriteria tersebut, maka diperoleh sampel sebanyak 27 perusahaan. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linear berganda.
 Hasil penelitian membuktikan bahwa Return on Equity (ROE) dan Growth berpengaruh signifikan terhadap Price to Book Value (PBV), sementara pengujian pada Dividen Payout Ratio (DPR) dan Degree of Financial Leverage tidak berpengaruh signifikan  terhadap Price To Book Value (PBV). Penelitian ini juga membuktikan bahwa Price To Book Value (PBV) berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham return saham. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas dan tingkat pertumbuhan merupakan faktor yang dipertimbangkan oleh investor. Sementara itu dividen yang digunakan sebagai sinyal oleh investor tidak direspon positif oleh para nvestor. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa return saham perusahaan yang undervalued tidak lebih baik daripada return saham perusahaan yang overvalued.

 Kata kunci: Dividend Payout Ratio, Return On Equity, Growth, Degree of Financial Leverage, Price to Book Value dan, Return Saham



 
  

Pendahuluan

Investasi adalah komitmen sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. Seorang investor membeli sejumlah saham saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham ataupun sejumlah dividen di masa yang akan datang, sebagai imbalan atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi tersebut.(Tandelilin, 2001).

Di dalam pembuatan keputusan investasi, investor harus memahami informasi yang berhubungan dengan perusahaan yang menerbit-kan saham. Untuk itu investor perlu melakukan berbagai analisis untuk menilai saham-saham yang akan dipilih serta untuk menentukan strategi investasi.

Analisis Pengaruh PER, EPS, ROA dan DER Terhadap Harga Saham



BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Permasalahan
Sejak terjadinya krisis moneter pada tahun 1998, menyebabkan begitu banyak perusahaan serta lembaga perbankkan yang bertumbangan. Salah satu alternatif bagi perusahaan untuk mendapat dana atau tambahan modal adalah melalui pasar modal. Pasar modal adalah sarana yang mempertemukan penjual dan pembeli dana. Tempat penawaran penjualan efek ini dilaksanakan berdasarkan satu lembaga resmi yang disebut bursa efek.

PENGARUH KUALITAS PELAYANANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN



BAB 1



PENDAHULUAN


1.1             Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat disaat ini semakin banyak. Masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan tersebut menginginkan kemudahan dan kepraktisannya. Berkembangannya pola hidup masyarakat modern membuat masyarakat beralih dari bertransaksi di pasar tradisional ke pasar modern (supermarket-supermarket). Apalagi orang lebih suka belanja di supermarket dibandingkan pergi ke pasar tradisional.
            Alasan mereka lebih memilih berbelanja di supermarket daripada di pasar tradisional, karena berbelanja di supermarket selain tempat yang nyaman, bersih, juga dapat menaikan gengsi masyarakat yang berbelanja di supermarket daripada di pasar tradisonal. Sikap konsumen yang seperti ini membuat banyak perusahaan yang mendirikan berbagai supermarket untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para konsumen. Banyaknya animo masyarakat memilih supermarket, maka perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan konsumen.

ANALISIS PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN (PEMBELI) DI PASAR KOTA MALANG

ABSTRAKS

Kualitas pelayanan (service quality) merupakan suatu strategi yang sangat penting bagi perkembangan dan keberhasilan organisasi bisnis. Konsep kualitas sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri dari atas kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Konsep kualitas pelayanan terdiri dari lima variabel yaitu: Variabel Bukti Langsung, Variabel Kehandalan, Variabel Daya Tanggap, Variabel Jaminan, Variabel Emphati yang berasal dari variabel kualitas pelayanan pedagang pasar (X) dan kualitas pelayanan Dinas Pasar (V). Konsep kepuasan terdiri satu variabel Kepuasan konsumen/pembeli (Y).Dengan menggunakan metode Proporsional Sampling, ditetapkan jumlah responden 190 orang, yang diproporsikan untuk masing-masing pasar yang diteliti sebagai berikut: pasar kelas utama sebanyak 34 orang, pasar kelas I sebanyak 126 orang, pasar kelas II sebanyak 18 orang dan pasar kelas III sebanyak 12 orang. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisa faktor (untuk mereduksi komponen-komponen penelitian), analisis regresi linier berganda (untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat melalui pendekatan langsung) dan analisis jalur/path (untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat melalui pendekatan tidak langsung).

Monday, 7 October 2013

Organisasi Pertemuan 4

Pengertian Organisasi
Pengertian / definisi Organisasi. Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Seperti telah diuraikan sebelumnya tentang Manajemen, Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen dan pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.
Dalam hal ini banyak sekali pengertian organisasi menurut pendapat- pendapat para ahli sebagai berikut :  

Perencanaan Pertemuan 3

Pengertian Perencanaan (planning)

Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa:planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective.Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.”

Sunday, 22 September 2013

Azas-Azas Manajemen Pertemuan 2


Manajer dan Manajemen

      A.    PENGERTIAN MANAJER
Definisi paling umum dari manajer adalah seseorang yang bekerja dengan atau melalui orang lain melalui kegiatan mengkoordinasi berbagai aktifitas pekerjaan dalam upaya untuk mencapai tujuan organisasi[1]. Tugas utama manajer adalah menkoordinasi. Walalupun nampak sederhana, namun dalam implementasinya kegiatan mengkoordinasi memerlukan kemampuan yang cukup kompleks. Seorang manajer tidak akan dapat mengkoordinasikan suatu proses pekerjaan dengan baik, jika manajer tersebut tidak dianut oleh bagian-bagian atau unit-unit yang akan dikoordinasikan, maka pasti proses koordinasi tidak akan terjadi. Untuk dapat dianut tentu seorang manajer harus memiliki berbagai prasyarat agar supaya dapat dianut.